Tahu nggak sih kalau kata "bajingan" yang sering dipakai buat ngumpat itu ternyata punya sejarah yang plot twist banget? Banyak yang ngira kata ini turunan dari kata "bajing" (tupai) yang ditambah akhiran "-an", mirip kayak kelakuan tupai yang suka nyolong kelapa warga tanpa permisi. Gara-gara KBBI naruh kata "bajing", orang-orang makin yakin kalau bajingan itu ya manusia yang kelakuannya minus seperti hama. Padahal, secara etimologi, penyusunan itu bisa dibilang agak keliru karena sebetulnya "bajingan" nggak ada hubungannya sama sekali sama si hewan pengerat yang pinter melompat itu.
Terus, dari mana asalnya? Nah, cerita yang paling populer itu justru datang dari bahasa Jawa. Jadi, zaman dulu banget, "bajingan" itu adalah profesi yang mulia dan penting, yaitu sebutan buat kusir atau sopir gerobak sapi yang mengangkut barang atau hasil bumi. Di masa ketika kendaraan bermesin belum ada, gerobak sapi ini jadi andalan transportasi warga dan juga untuk mengangkut hasil bumi. Nah, karena jadwal lewatnya gerobak sapi ini nggak menentu dan super lambat, orang-orang yang butuh tumpangan atau lagi nungguin barangnya datang sering dibikin lumutan di pinggir jalan.
Menurut kisahnya, gara-gara kelamaan nunggu dalam ketidakpastian itulah, emosi warga mulai tersulut. Tiap kali gerobak nggak muncul-muncul, mereka bakal menggerutu kesal sambil ngomong, "Duh, endi sih bajingan iki, suwe tenan!" (Duh, mana sih bajingannya, lama banget!). Karena kata "bajingan" ini selalu diucapkan dengan nada dongkol, jengkel, dan penuh amarah, lama-kelamaan maknanya bergeser total. Dari yang tadinya nama profesi kusir terhormat, pelan-pelan diserap ke bahasa Indonesia jadi kata makian buat orang yang kurang ajar atau penjahat. Jadi, ya gitu ceritanya, sebuah kesalahpahaman sosiologis yang akhirnya bikin profesi kusir sapi kena getahnya sampai sekarang.
"Dalam bahasa Jawa, bajingan awalnya adalah sebutan terhormat untuk pengemudi gerobak sapi yang mengangkut hasil bumi. Istilah ini berasal dari singkatan bagusing jiwo angin-anging Pangeran (orang baik yang dicintai Tuhan). Kini, maknanya bergeser menjadi kata umpatan kasar, seringkali karena keluhan penumpang atas keterlambatan gerobak tradisional tersebut."




Post a Comment
0 Comments